For my Light :)

Alih alih sisa depresi yang tak kusebut lalu menua pada perantara waktu. Jika tak ada kau, depresiku semakin akut. Tak tau jalur, membekas dan terampas.

Dikhianati berkali kali sempat membuatku hampir mati rasa. Ada lebam di hati yang membekas cukup lama. Menguji kesabaranku sampai diujung batas. beberapa waktu lalu kuhabiskan mengutuk diri sendiri. Karena salahku bertahan terlalu lama, lalu membiarkan luka terus menganga lagi dan lagi.

Hingga akhirnya membuka mataku lebar lebar, melihatnya sendiri dan menyerah tanpa perlawanan. Hingga akhirnya kuputuskan menutup mata dan telinga. Bagiku lelaki sama, tak ada bedanya. Komitmen bagi mereka hanya omong kosong. Saat itu aku merasa sangat benci berhenti berharap apa-apa, perihal cinta.

Sampai suatu ketika aku bertemu denganmu. Entah cara apa yang kau punya. Menghadapi sikap kerasku yang sulit untuk di tebak. Tak jarang malah membuatmu kesal sendiri. aku cukup memuji kesabaranmu dalam hati. Awal bukankah memang selalu menyodorkan yang baik baik saja? Aku masih sangat berhati hati.

Tapi lagi-lagi kau berusaha keras, meminta percaya. Berjalan waktu, melihat kesabaranmu. Kerasku luluh sendiri. Dunia tak sesempit itu. Aku mulai melihat dari sudut pandang lain. Dosa satu orang tak perlu kulimpahkan kepadamu yang tak tau apa apa. Aku takut nantinya malah bergantung padamu. Tapi jika terus takut dan khawatir, mana aku tahu yang terbaik untukku sendiri?

Ya, semakin lama aku menyadari, aku mulai menyukai pertemuan-pertemuan kita. Yang tak lagi menjadi kebetulan, melainkan tujuan. Bahkan aku sempat tak bisa bicara apa-apa sejak kau bilang mengenai keseriusan. Hubungan yang bukan sekedar hiburan menutup sepi. Hubungan yang kau sebut komitmen, yang kau bilang tentang “pernikahan”.

Aku masih terbata-bata membaca apa yang kau katakan. Entah sungguhan ataukah sama seperti sebelumnya. Tapi aku coba mulai memahami kau, meyakini semua tak seburuk itu. Berhenti membiarkan trauma membalut hidupku. dan kau pasti berbeda. Aku mulai menyukai keadaan ini. Yah, aku mulai merindukanmu.

Entah mengapa, bersamamu menjadi bagian yang selalu aku rindukan.

Melukis ceriamu yang menawan, dan kupeluk dalam tidur. Ku harap mimpiku menyapa kau, dalam lelah yang tenggelam nyaman dan enggan terbangun.

Sepiku berlalu. Setiap hari ada kau dan selalu kau. Yang tadinya aku merasa sedikit terganggu. Mungkin tanpa sadar aku jatuh cinta kembali. Sekalipun aku enggan mengakuinya. Ini terlalu cepat, sungguh tapi ini nyata. Dan tak ada yang aku tunggu selain kabarmu. Atau sekadar kau bertanya tentangku. Kau menjadi bagian yang melengkapi hari hariku. Ah kau, dari ku terbangun hingga terlelap. Bahkan kalau saja bisa, singgahlah terus dimimpiku.

tapi entah kenapa semua seakan berubah sekarang, setelah langkah awal untuk ke depannya lebih serius kita jalani.. kau kembali mengingatkan tentang hal yg jujur saja aku sendiri enggan mengingatnya.. karena terlalu sakit untuk flashback ke arah situ..

tapi bukan cinta sejati namanya ,, jika tidak pernah ada tangis,tawa dan perjuangan yg luar biasa … bukan pantai namanya jika tidak pernah ada ombak dan pasang surut.. bahkan pelangi sekalipun ada setelah awan mendung lalu hujan.

Tuhan mengujiku dengan berbagai masalah yg jujur saja membuatku lelah dan putus asa.. aktifitasmu yg selalu sibuk dan padat, hampir tk pernah usai ,, dulu sesibuk apapun kamu masih kamu sempatkan sdikit wktu untuk menyapaku.. tapi sekarang semua seakan berubah.. kamu cuek dan seakan tidak peduli tentangku lagi,  yg ada di pikiran dan priorotasmu sekarang hanyalah sibuk sibuk dan sibuk. Entahlah apa yg membuatmu seperti itu seakan aku sudah tidak menarik lagi untuk kamu prioritaskan seperti dulu…

memang aku akui sifatku belakangan ini tidak terkendali dengan baik,, aku sering marah dan kesal tidak jelas kepadamu.. tpi ketahuilah itu karena aku sedang berusaha memendam gejolak  rindu yg terus menumpuk karena kesibukanmu.

Ingin rasanya aku berteriak aku pingin kamu yg dulu …

Tapi saat aku berusaha keras memendam kekecewaan sifatmu yg perlahan mulai berubah… kamu kembali goreskan luka serupa yg tk pernah ingin kurasakan kembali… memilih yg lain yaa saat masalah denganku belum juga menemui titik temu.. kamu sudah mendapatkan teman lain di belakang tatap mataku… kamu asyik dan mulai nyaman dengan teman tsb.. sampai akhirnya aku kalap dan tak ku sadari, aku melakukan hal bodoh yg gak seharusnya aku lakukan,, karena sama saja merendahkan diriku sendiri di matamu.

Dan kau menjadi bagian yang menarik untuk kuperbincangkan dengan Tuhan perihal “jodoh”.

Kau menjelma disetiap fikiran, menyingkirkan resah yang kerap memelukku. Sejak ada kau, resahku malah menjadi khawatir yang tak berkesudahan. Bagaimana aku, jika tanpa kau.

Aku mulai bergantung padamu. Aku fikir aku akan begitu lama terpuruk. Ternyata aku salah. Tuhan begitu baik. Dalam doa yang ku pinta tentang jodoh, aku berserah diri. Meminta jalan terbaiknya yang nantinya akan diberikan untukku. Lewat hal hal yang tak aku duga, takdir membawa kau begitu cepatnya.

Kau orang yang baru saja menyapa kehidupanku. Yang tanpa berfikir panjang menjadikan aku tujuanmu. Yang tadinya aku pikir bukanlah apa apa. Bukankah bertemu dengan siapapun bisa dijumpai dimana saja? Bolehkah kusebut kau bagian dari rencana Tuhan untukku? Karena tak semua yang kutemui bisa menghadirkan perasaan yang sama.

Bolehkah teruntuk jodoh yang dirahasiakan tuhan, dan aku berharap itu kamu? Karena aku tak menginginkan apa apa lagi. Bagaimana bisa kau membuatku seyakin ini. Yang aku rasa bahwa aku cinta caramu mencintai aku. Sederhana, tapi aku merasa aku bercermin sendiri. Kau seperti aku. Tuhan, maka jangan biarkan ini sementara. Dalam doa kerap kusebut, dan meminta kepada yang MAHA. Persatukan kami dalam ikatan yang halal.

Iklan